Santa Mars

Laki-laki, 18 tahun

Malang, Indonesia

Banggalah pada dirimu sendiri, Meski ada yang tak Menyukai. Kadang mereka membenci karena Mereka tak mampu menjadi seperti dirimu.
::
Start
Windows 8 SM Versi 3
Shutdown

Navbar3

Search This Blog

Loading...

Thursday, 6 June 2013

Musibah yang terjadi pada kehidupan manusia


> Arti kata Musibah

Musibah mempunyai beberapa sinonim yang juga bisa dijadikan sebagai arti kata dari musibah itu sendiri, di antaranya adalah:
Sinonim
:

> Hakikat Musibah
Musibah apapun yang menimpa umat Rasulullah, seyogyanya dipandang sebagai salah satu dari enam perkara:[2]
1.  sebagai ujian keimanan. Allah berfirman dalam al-Quran Surat al-Ankabut ayat 1-2, “Alif Lam Mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan, “Kami beriman”, dan mereka tidak diuji?! Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti akan mengetahui orang-orang yang benar (dengan keimanannya) dan orang-orang yang berdusta”.
Firman Allah dalam Surat Muhammad ayat 31, “Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benarberjihad dan bersabar di antara kamu, dan akan Kami uji perihal kamu”.
2.  sebagai upaya meningkatkan derajat keimanan. Semakin tinggi iman seseorang, semakin tinggi pula ujian yang ditimpakan kepadanya. Dalam al-Quran, Hadis dan Sirah Nabawiyah (sejarah nabi) banyak kita temukan kisah musibah yang menimpa para nabi. Nabi Nuh misalnya, selama 950 tahun berdakwah hanya mendapatkan sedikit orang yang beriman, sementara kebanyakan umatnya kufur bahkan memperoloknya (QS. Al-Ankabut ayat 14), Nabi Ibrahim dibakar Raja Namrud (QS. Al-Anbiya` ayat 57-70), Nabi Ayub yang diuji dengan ludesnya harta dan kematian hampir seluruh anggota keluarganya serta tubuhnya yang dijangkiti banyak penyakit (QS. Shad ayat 41), dan Rasulullah yang diejek dan disakiti orang-orang kafir Makkah, bahkan hendak dibunuh.
Rasulullah pernah ditanya oleh Shahabat Sa’ad bin Abu Waqqash tentang orang yang paling berat cobaannya, beliau menjawab, “Para nabi. Kemudian orang-orang yang derajatnya dekat dengan para nabi”. (HR. al-Hakim dan al-Thabrani).
Dalam hadis lain Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang muslim terkena duri, atau lebih dari itu, kecuali Allah mengangkat baginya satu derajat, dan menghapuskan darinya satu dosa”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
3.  sebagai bukti cinta Allah terhadap hamba-Nya. Dalam sebuah Hadis Rasulullah bersabda “Ketika Allah mencintai suatu kaum, Dia mengujinya (dengan memberinya musibah)”. (HR. Ahmad dan al-Thabrani)
4.  sebagai tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang (segolongan kaum), kebaikan ini berbentuk pemberian pahala dan penghapusan dosa yang diberikan Allah bagi orang yang bersabar dalam menjalani musibah.
Dan sabdanya yang lain, “Umatku umat yang dirahmati, di mana tidak ada atas mereka siksaan di akhirat. Siksaan mereka di dunia berupa bencana, gempa dan pembunuhan”. (HR. Abu Dawud).
Dan dalam sebuah Hadis yang dari Ummul Mukminin Aisyah, bahwasanya Rasulullah bersabda, “Ketika dosa seorang hamba sudah sedemikian banyak, dan tidak ada sesuatupun yang dapat menghapusnya, maka Allah mengujinya dengan kesusahan agar dosanya terhapuskan”. (HR. al-Bazzar)
Dalam sebuah Hadis Rasulullah bersabda, “Ketika Allah menghendaki kebaikan bagi hambanya, Dia mengujinya dengan bala (musibah). Dan ketika Allah menguji hambanya, Dia memberatkannya”. Saat para sahabat bertanya maksud dari memberatkannya”, Rasulullah bersabda, “Allah tidak meninggalkan baginya keluarga dan harta”. (HR. al-Thabrani).
5.  sebagai teguran atau peringatan. Dalam sebuah Hadis Rasulullah bersabda, “Tidak ada seorangpun dari kalian melanggar ketentuan (Agama) kemudian disegerakan siksaannya (sebagai hukuman), kecuali siksa itu menjadi kafarah (penebus dosanya). Dan siapa yang siksanya diakhirkan, maka urusannya dikembalikan kepada Allah; Kalau Allah menghendaki, Dia merahmatinya (mengampuni kesalahannya). Dan kalau Dia tidak menghendaki, Dia akan menyiksanya” . (HR. Ibn Hibban)
Dalam sebuah Hadis yang yang lain Rasulullah bersabda, “Ketika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka disegerakan baginya hukuman (di dunia ini) atas dosanya. Dan apabila Allah menghendaki keburukan pada hamba-Nya, Dia tahan hukuman dosanya di dunia, sehingga disiksa-Nya pada hari Kiamat.” (HR. al-Hakim)
6.  sebagai siksa Allah di dunia. Dalam al-Qur`an Allah menjelaskan bahwa ketika kemaksiatan dan kejahatan merajalela, dan tidak ada orang yang mencoba melakukan amar makruf nahi munkar, maka siksa Allah (musibah) akan menimpa mereka secara keseluruhan, “Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS. al-Anfal ayat 25).
Dalam surah at-taqhabun yang artinya:
11. Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan Barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
12. Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya, jika kamu berpaling Sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.
13. (Dia-lah) Allah tidak ada Tuhan selain Dia. dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah saja.
            Kelompok ayat-ayat ini oleh Thabathaba’i sebagai tujuan utama  surah ini, sedang sebelumnya adalah pengantar menuju tujuan tersebut (lihat kembali uraian tentang tema surah ini yang telah penulis kemukakan pada pengantar). Sayyid Quthub menduga bahwa hakikat yang diungkap oleh ayat 11 di atas dipaparkan di sini sekedar sebagai penjelasan dalam rangka menjelaskan hakikat iman yang menjadi bahasan tentang iman yang merupakan ajakan al-Qur’an. Imam tersebut adalah mengembalikan segala sesuatu kepada Allah Swt. Dan bahwa tidak ada yang menimpa seseorang baik atau buruk kecuali atas izin Allah Swt. Dengan demikian kita akan merasa “tangan Tuhan” pada setiap peristiwa yang terjadi, dan melihat “tangan”-Nya pada setiap gerak sehingga tenanglah hatinya terhadap apa menimpanya, baik kesulitan maupun kesenangan. Ia bersabar dalam kesulitan dan bersyukur dalam kesenangan.
            Ayat yang lalu mengancam kaum kafir dengan siksa di neraka. Sementara ulama berkata bahwa ketika itu sementara kaum musyrikin berkata: “kalau memang kaum muslimin berada dalam kebenaran tentu Allah tidak menjatuhkan bencana atas mereka, termasuk bencana yang terjadi melalui upaya kaum musyrikin. Untuk menyingkirkan keresahan itu ayat di atas menyatakan: tidak menimpa seseorang satu musibah pun berkaitan urusan dunia atau agama kecuali atas izin Allah melalui system yang telah ditetapkan dan selalu di bawah kontrol  pengawasan-Nya. Siapa yang kufur kepada Allah, maka dia akan membiarkan hatinya dalam kesesatan dan siapa yang beriman kepada Allah,[3] dan percaya bahwa tidak ada yang terjadi kecuali atas izin-Nya niscaya dia akan memberi petunjuk hatinya sehingga dari saat ke saat ia akan semakin percaya, serta tabah dan rela atas musibah yang menimpanya sambil mencari sebab-sebabnya dan semakin meningkat pula amal-amal baiknya. Allah menyangkut segala sesuatu Maha Kuasa dan Allah menyangkut segala sesuatu Maha mengetahui.  Karena itu sabarlah menghadapi serba cobaan serta lakukanlah intropeksi dan taatlah kepada Allah di setiap tempat dan waktu, dan taatlah kepada Rasul dalam segala hal yang diperintahkan – walau belum ada perintah Allah tentang tersebut, kaarena beliau selalu dalam bimbingan-Nya. Jika kamu memaksakan diri berpaling dari fitnah [kesucian yang mengantar kepada pengakuan keesaan Allah dan dorongan beramal saleh, maka itu tidak akan merugikan kecuali diri kamu masing-masing. Rasul Saw sedikit pun tidak akan rugi karena yang berada di atas  pundak Rasul Saw yakni kewajiban yang dibebankan kepada beliau hanya-lah penyampaian yang jelas tentang pesan-pesan Allah Swt. Jangan duga kaum musyrikin yang menganiaya kamu akan dibiarkan begitu saja. Tidak! Jangan juga tidak taat kepada-Nya. Allah tiada Tuhan yang berhak disembah, serta pengendali alam raya selain Dia yang Maha Kuasa itu, karena itu hanya kepada-Nya hendaknya kamu mengabdi dan meminta perlindungan menghadapi aneka musibah dan memang hanya kepada Allah tidak kepada selain-Nya, bertawakal yakni berserah diri setelah upaya maksimal orang-orang mukmin yang mantap keimanannya.[4]
C.  Macam-macam Musibah
            Dalam surah Al-Baqarah yang berbunyi:
155. Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
            Sesungguhnya kalian akan kami beri cobaan dengan musibah dan kesusahan agar menjadi jelas siapa yang jujur (tulus) dan siapa yang pendusta. Di antara cobaan yang akan kami timpakan kepada kalian itu adalah rasa takut dari musuh, kekurangan makanan, kehilangan sebagian harta benda, kekacuan kondisi, meniggalnya orang-orang yang tercinta, kaum kerabat dan handai taulan, rusaknya buah-buahan, sertanya binasanya pohon-pohonan. Semua itu kami lakukan agar kami dapat menguji kalian di kehidupan negeri dunia ini, karena dunia ini bukanlah negeri yang abadi. Dalam keadaan sulit dan menghadapi berbagai cobaan  yang berat tersebut tidak akan ada yang berguna bagi kalian selain kesabaran.[5] Barangsiapa yang bersabar niscaya dia akan mendapat kemenangan,  orang yang sabar akan mendapat pahala tak terhingga, ganjaran yang besar, dan malaikat  akan menjumpainya dari setiap pintu. 

  1. Anjuran Istirja terhadap Musibah
Surah Al-Baqarah ayat yang berbunyi: 
156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.[6]
157. Mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.
            “(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Inna li-llahi wa inna ilaihi raji’un’(sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kami akan kembali (kepada-Nya). Mereka itulah yang mendapat banyak keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”.
            Kita milik Allah. Jika demikian, dia melakukan apa saja sesuai dengan kehendak-Nya. Tetapi Allah Maha Bijaksana. Segala tindakan-Nya pasti benar dan baik. Tentu ada hikmah di balik ujian atau musibah itu. Dia Maha Pengasih, Maha Penyayang, kita akan kembali kepada-Nya, sehingga ketika bertemu nanti, tentulah pertemuan itu adalah pertemuan dengan kasih sayang-Nya.
            Kita adalah milik Allah. Yang menjadi milik-Nya adalah kita semua yang juga merupakan makhluk-Nya. Jika kali ini petaka menimpa saya, maka bukan saya yang pertama ditimpa musibah, bukan juga yang terakhir. Makna ini akan meringankan petaka, karena semakin banyak yang ditimpa petaka, , semakin ringan ia pikul petaka tersebut dengan berkah lafadz yang ia sebutka tersebut.
            Kalimat ini tidak diajarkan Allah kecuali kepada Nabi Muhammad saw dan ummatnya, seandainya Nabi Ya’kub mengetahuinya maka dia tidak akan berucap seperti ucapannya yang diabadikan al-Qur’an: “Aduhai,[7] duka citaku terhadap Yusuf” ­(QS. Yusuf  (12): 84).
            Yang mengucapkan kalimat (إنا لله وإنا إليه راجعون) Inna li-llahi wa inna ilaihi raji’un dengan menghayati makna-maknanya antara lain seperti dikemukakan di atas mereka itulah yang mendapat banyak keberkahan.
            Keberkahan itu sempurna, banyak dan beraneka ragam, sebagaimana dipahami dari bentuk jamak yang digunakan ayat di atas, antara lain berupa limpahan pengampunan, pujian, menggantikan yang lebih baik daripada nikmat sebelumnya yang telah hilang dan lain-lain. Semua keberkahan itu bersumber dari Tuhan Yang Memelihara dan Mendidik mereka. Dengan demikian keberkahan itu dilimpahkan sesuai dengan pendidikan dan pemeliharaan-Nya.
            Mereka juga mendapat rahmat.  kata (رحمة)   “rahmat”, walau sepintas terlihat terbentuk tunggal, tetapi karena ia berbentuk kata jadian/mashdar maka ia pun dapat mengandung arti jamak/banyak. Pakar-pakar bahasa Arab berkata bahwa bentuk kata jadian (mashdar) dapat berarti tunggal dan juga dapat berarti jamak.
            Kita tahu persis makna rahmat ilahi. Yang pasti, rahmat-Nya bukan seperti rahmat makhluk. Rahmat makhluk merupakan rasa sedih melihat ketidakberdayaan pihak lain. Rasa sedih itulah yang mengahasilkan dorongan untuk membantu mengatasi ketidakberdayaan orang yang tidak berdaya tersebut. Bagaimana rahmat Allah, Allah yang Maha Mengetahui tentang hakekat rahmat-Nya. Kita hanya dapat melihat dampak atau hasilnya, yaitu limpahan karunia dan anugerah.
            Mereka juga mendapat petunjuk. Bukan saja petunjuk mengatasi kesulitan dan kesedihannya, tetapi juga petunjuk menuju jalan kebahagian dunia dan akherat.[8]
            Orang-orang yang sabar itu adalah orang yang orang-orang  beriman yang apabila ditimpa musibah akan berkata, “kami adlah hamba Allah dan milik-Nya, Dia memutuskan untuk kami  apa yang  dia kehendaki dari kebahagian dan kesedihan, kesusahan dan kesenangan. Kami berada di bawah pengaturan dan suratan takdir-Nya  dan kami akan kembalikan kepada-Nya untuk dihisab”. Barangsiapa bersabar maka baginya pahala, dan barangsiapa berkeluh kesah maka ia akan mendapat siksa. Orang yang sabar akan diberi rahmat dan orang yang marah akan terjauh dari rahmat.[9]

  1. Sebab Terjadinya Musibah
1.  Bersumber dari perilaku sendiri
            Dalam surah Ali Imran yang berbunyi:
165. Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), Padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
            Apakah saat terjadi kekalahan pada perang Uhud atas kalian. Lalu kalian bertanya,”kenapa kita kalah, padahal kita dijanjikan untuk menang dan kita berada di pihak yang benar? Bagaimana kaum musyrikin bisa mengalahkan kita, padahal mereka berada di pihak yang salah?”
            Katakanlah kepada mereka, wahai Muhammad, “ penyebab kekalahan ini berasal dari diri kalian sendiri, karena kalian melanggar perintahku dan tidak mau melaksanakan petunjuk yang kuberikan agar jangan meninggalkan bukti para pemanah, lantas kalian menderita kekalahan. Maka, ingatlah dan jangan pernah lupakan hal ini. Aku telah memberi pengarahan kepada kalian, aku meminta agar kalian tetap bersabar di atas bukit Uhud. Lagipula, kalian telah mengalahkan para musuh dalam perang Badar. Jika dari pasukan kalian telah terbunuh sebanyak tujuh puluh orang maka kalian telah membunuh tujuh puluh orang dari mereka sekaligus menawan tujuh puluh lainnya. Kalian telah memperoleh dua kali lipat dari mereka dibandingkan apa yang telah mereka peroleh darimu. Semua itu terjadi dengan ketentuan Allah s.w.t., karena Dia Swt Maha kuasa, tidak ada satupun yang bisa melemahkan-Nya. Dia Maha Bijaksana, tidak ada yang tidak beres dalam perkara-Nya dan tidak ada pula yang cacat. Dia juga Maha Melihat hamba-hamba-Nya.[10]
  1. Kemunafikan
Surah An-Nis: 
72. Dan Sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata: "Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka.[11]
Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah bahwa di antara kalian ada segolongan kaum munafik yang enggan untuk ikut serta berjihad fi sabilillah karena kemunafikannya. Kemudian, apabila kalian ditimpa kekalahan atau ada beberapa orang dari kalian yang terbunuh, mereka akan mengatakan bahwa mereka mendapat anugerah dari Allah Swt, diselamatkan dari bencana tersebut dikarenakan ketidakikutsertaan mereka dalam pertempuran bersama kalian. Bahkan, mereka berbangga dan bersenang hati dengan ketidakikutsertaan mereka dalam peperangan yang menyebabkan terbunuhnya beberapa orang dari kalian itu.[12]

  1. Hikmah Musibah
1.  Menambah Mahabbah (cinta) Kepada Allah Swt;
Dalam surah asy-Syura:




30. Dan apa yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri dan Allah memaafkan banyak.
31. Dan kamu tidak akan mampu di bumi (ini), dan kami tidak memperoleh-selain Allah-satu pelindung pun dan tidak pula satu penolong.
            Thahir Ibn Asyur menghubungkan ayat ini dengan ayat 28 yang lalu, yang menguraikan anugerah turunnya hujan setelah sebelumnya masyarakat Mekah menderita paceklik dan telah berputus asa dari kehadiran hujan. Di sisni mereka diingatkan bahwa petaka yang mereka alami itu adalah akibat kedurhakaan mereka mempersekutukan Allah Swt. Hal itu demikian, agar mereka melakukan intropeksi dan melaksanakan apa yang direstui oleh Allah pencipta mereka.
            Al-Biqa’I Ibn Asyur menghubungkan ayat-ayat yang lalu menguraikan nikmat dan kekuasaan-Nya. Ayat-ayat itu bagaikan menyatakan: Allah yang telah menciptakan kamu, memberi kamu rezeki, dan dia juga yang mengendalikan urusan kamu setelah menyebarluaskan kamu di pentas bumi ini. Tidak ada nikmat kecuali yang bersumber dari-Nya, dan tidak ada pula petaka kecuali atas izin-Nya. Dengan demikian Dialah sendiri yang merupakan “wali” yang mengurus kamu. Nikmat apapun yang kamu rasakan maka itu adalah bersumber yang menimpa -kapan dan di mana pun terjadinya- maka itu adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri yakni dosa dan kemaksiatan yang kamu lakukan, paling tidak disebabkan oleh kecerobohan atau ketidakhati-hatian kamu.[13] Musibah yang kamu alami itu hanyalah akibat sebagian dari kesalahan kamu, karena Allah tetap melimpahkan rahmat-Nya kepada kamu dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan-kesalahan kamu, sehingga kesalahan-kesalahan itu tidak mengakibatkan musibah atas diri kamu. Seandainya pemaafan itu tidak dilakukan-Nya, maka pastilah kamu semua binasa bahkan tidak ada satu binatang melata pun di pentas bumi ini. Jangan duga bahwa pemaafan yang dianugerahkan Allah itu disebabkan karena dia lemah, tidak! Dia Maha Kuat. Dan kamu walau secara bersama-sama tidak akan mampu melepaskan diri dari ketentuan dan siksa Allah, walau kamu berusaha berlindung di penjuru bagian mana pun di bumi ini, dan di samping itu kamu juga tidak memperoleh  -selain Allah – satu pelindung pun dan tidak pula satu penolong.
            Ayat di atas walaupun dari segi konteksnya tertuju kepada kaum musyrikin Mekkah, tetapi ia dari segi kandungannya tertuju kepada seluruh masyarakat manusia baik perorangan maupun kolektif, kapan dan di mana pun, dan baik mukmin maupun kafir.[14]
  1. Keutamaan dari Allah Swt;
Dalam surat an-Nisa:
72. Dan Sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran)[15]. Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata: "Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka.
Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah bahwa di antara kalian ada segolongan kaum munafik yang enggan untuk ikut serta berhijad fi sabilillah karena kemunafikannya, kemudian, apabila kalian ditimpa kesalahan atau ada beberapa orang dari kalian yang terbunuh, mereka akan mengatakan bahwa mereka mendapat anugerah  dari Allah swt., diselamatkan dari bencana tersebut dikarenakan ketidakikutsertaan mereka dalam pertempuran bersama kalian. Bahkan, mereka berbangga dan bersenang hati dengan ketidakikutsertaan mereka dalam peperangan yang menyebabkan terbunuhnya beberapa beberapa orang dari kalian itu.[16]
3.  Ancaman terhadap Munafik
Surah an-nisa yang berbunyi:
62. Maka Bagaimanakah halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah: "Demi Allah, Kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna"
                Bagaimanakah keadaan mereka apabila Allah Swt menampakkan apa yang mereka sembunyikan, membuka apa yang mereka simpan di dalam hati mereka, menyiksa mereka atas kejahatan yang mereka perbuat, menjayakan kaum beriman atas mereka, dan menurunkan kesusahan kepada mereka sebagai balasan atas kemunafikan mereka?
            Setelah itu mereka akan datang kepada kalian dengan pura-pura merendahkan diri seraya menutupi kepura-puraannya dengan sumpah palsu bahwa mereka bertahkim kepada selain syariat Allah adalah atas dasar niat yang baik, tujuan yang benar, dan pertimbangan situasi dan kondisi yang harus mereka perhatikan atas jalan kebaikan.[17]


  1. Penutup
Kesimpulan
    • Musibah bukanlah sesuatu yang bisa dihindari oleh setiap insane karena ia memang mutlak ada dalam kehidupan.
    • Dalam musibah terdapat berbagai macam hakikat yang kesemuanya merupakan bentuk kasih sayang-Nya Sang Khaliq kepada makhluk-Nya, begitu juga dengan hikmah yang terkandung di dalam musibah tersebut.
    • Dalil-dalil yang menguatkan adanya musibah dan sebab musibah juga termaktub dalam ayat-ayat Alquran.
    • Musibah diibaratkan warna yang memberikan makna dalam kehidupan.
    • Nabi yang merupakan hamba Allah yang paling dekat dengan-Nya dan bergelar dengan Habibullah saja mendapatkan musibah berupa ujian, apalagi manusia yang masih belum diketahui posisi dan kedudukannya di sisi Allah Swt.


[1] http://www.sinonimkata.com/sinonim-159359-musibah.html.  Di download pada tanggal 27 Mei 2011.
[3] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an  (Jakarta: Lentera Hati, 2003), volume 14, hal. 274.
[4] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, hal.  275.
[5] ‘Aidh al-Qarni, Tafsir Muyassar (Jakarta: Qisthi Press, 2007), juz 1, hal. 118.
[6] Artinya: Sesungguhnya Kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah Kami kembali. kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah). Disunatkan menyebutnya waktu ditimpa marabahaya baik besar maupun kecil.
[7] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah  Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an (Jakarta: Lentera Hati, 2003), volume I, hal. 343.
[8] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah  Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, hal. 344.
[9] ‘Aidh al-Qarni, Tafsir Muyassar (Jakarta: Qisthi Press, 2007), juz 5, hal. 119.
[10]‘Aidh al-Qarni, Tafsir Muyassar,  hal. 328.
[11] Artinya: Sangat merasa keberatan ikut pergi berperang.
[12] Aidh al-Qarni, Tafsir Muyassar (Jakarta: Qisthi Press, 2007), juz 1,  hal. 410.
[13] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an  (Jakarta: Lentera Hati, 2003), Volume 12, hal. 503.
[14] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an , hal. 504.
[15] Sangat merasa keberatan ikut berperang.
[16] Aidh al-Qarni, Tafsir Muyassar, hal. 410.
[17] Aidh al-Qarni, Tafsir Muyassar,  hal. 405.

Penulis: Muzda+iyah

0 komentar: