Santa Mars

Laki-laki, 18 tahun

Malang, Indonesia

Banggalah pada dirimu sendiri, Meski ada yang tak Menyukai. Kadang mereka membenci karena Mereka tak mampu menjadi seperti dirimu.
::
Start
Windows 8 SM Versi 3
Shutdown

Navbar3

Search This Blog

Wednesday, 5 June 2013

Al-qur’an Sebagai Wahyu Allah

Al-qur’an Dengan Wahyu sangat erat kaitannya, karena Al-qur’an merupakan wahyu Allah yang telah disampaikan kepada Nabi Muhammad saw, sebagaimana Allah swt. Telah menyampaikan wahyu Rasul sebelumnya. Telah jelas didalam Al-qur’an Allah swt berfirman sebagai berikut di dalam surah an-nissa ayat 163-164.      
 Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan Kami berikan Zabur kepada Daud.
 Dan (kami telah mengutus) Rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan Rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung[381].
 Allah berbicara langsung dengan Nabi Musa a.s. merupakan keistimewaan Nabi Musa a.s., dan karena Nabi Musa a.s. disebut: Kalimullah sedang Rasul-rasul yang lain mendapat wahyu dari Allah dengan perantaraan Jibril. dalam pada itu Nabi Muhammad s.a.w. pernah berbicara secara langsung dengan Allah pada malam hari di waktu mi'raj.
Wahyu Menurut Bahasa berasal dari kata:وَحي‘- يَحِى- وحْيًا                           
Wahyu adalah bentuk masdar, dan kata wahyu banyak disebut dalam Al-qur’an,
Al Fayyuni dalam Misbah Al Munir Mendefinisikan Wahyu adalah sebagai dibawah ini:
الوَحيُ لغَةً: الكتَابُ وَهُوَ اَيْضًا الارْشَادُ والكتَابَةُ والرِسَالَةُ والالْهاَمُ وَالكَلاَمُ الخَفِىُّ وكُلّ مَا القَيْتَهُ إلى غَيْرِكَ.
Artinya:
“Wahyu menurut bahasa berarti kitab dan juga petunjuk, tulisan, kerisalahan, ilham, pembicaraan rahasia dan segala sesuatu yang kamu sampaikan kepada selainmu.
- Sedangkan menurut Istilah Al Zurkani menyatakan sebagai berikut:
الوحيُ اصْطِلاًحًا: ان يُعْلِمَ اللهُ تعالى مَنِ اصْطَفَاهُ مِنْ عِبَادهِ كُلَّ ما ارادَ اطّلاَعهُ عليه من اَلْوَانِ الهِدَايَةِ والعِلْمِ ولكنْ بِطَرِيْقَةٍ سرِيَّةٍ خَفِيَّةٍ مُعْتَادٍ للبَشَرِ.
Artinya:
“Wahyu adalah pemberitahuan Allah kepada hamba-Nya yang dipilih-Nya, akan segala sesuatu yang ia kehendaki untuk menampakkannya dari berbagai hidayah dan pengetahuan, akan tetapi dengan jalan rahasia yang tidak biasa bagi manusia untuk diperoleh.
    Wahyu dalam menurut istilah ini menjelaskan jalan yang khusus di gunakan Allah swt untuk berhubungan dengan rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya untuk menyampaikan kepada mereka berbagai macam hidayah dan ilmu. “Ta’rif wahyu yang seperti ini muncul dikarenakan pertimbangan bahwa wahyu bersifat tersembunyi bagi orang lain, yang karena tindakan Allah swt berhubungan dengan Rasul-Nya yang mulia itu disebut wahyu. Dalam firman Allah swt dalam surah An-nisa’ 136:

Artinya:
 Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.

Al-qur’an berbicara lebih banyak tentang masalah wahyu, yang menurunkan dan yang membawanya, bahkan kualitas wahyu, dari pada kitab-kitab samawi yang terdahulu seperti Taurat dan Injil, sehingga didalam Al-qur’an terdapat beberapa ayat yang membicarakan tentang pewahyuan itu sendiri. Mengenai wahyu Al-qur’an mayoritas kaum muslimin semua mempercayai bahwa al-qur’an dengan lafalnya adalah firman Allah swt yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Dengan perantara seorang malaikat yang dekat dengan-Nya. Malaikat yang menjadi perantara itu disebut Jibril dan ruhul Amin, datang membawa firman Allah kepada Rasulullah dalam berbagai waktu yang berbeda selama dua puluh tiga tahun. Rasul pun membacakan ayat-ayat tersebut kepada ummat manausia, dan memberitahukan makna-maknanya terhadap mereka, serta mengajaka kepada ummat untuk menerima akidah, tata social, berbagai hukum dan tugas perseorangan yang semuanya itu terdapat pada pedoman Al-qur’an.
Abd. Al-Shabur Syahim meberikan definisi tentang al-Qur’an :
الْقُرْآن كَلاَ مُ اللهِ الْمُنَزِّلُ عَلَى قَلْبِ محمد صلى الله عليه و سلم بوساطة الوحي – روح القدس – منجما فى شكل آيات وسور خلال فترة الرسالة (ثلاث و عشرين سنة) مبدوءا بفاتحة الكتاب محفوما بسورة الناس منقولا باالتواتر المطلق برهانا معجزا على صدق رسالة الإسلام
Artinya :
al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Muhammad saw dengan perantaraan wahyu melalui ruh al-Qudus (Jibril) yang tersusun dalam bentuk ayat-ayat dan surah-surah. Seputar patrah risalah (± 23 Tahun) yang dimulai dengan surah al-Fatihah dan diakhiri dengan surat al-Naas yang diriwayatkan secara mutawatir yang merupakan mukjizat dan dalil-dalil atas kebenaran risalah Islam
    Suatu ketika Imam Al-Zuhri ditanya tentang wahyu, kemudian beliau menjawab:” Wahyu adalah lah kalam Allah yang disampaikan kepada salah seorang Nabi-Nya kemudian perkokohka-Nya kedala hati seorang pilihan Allah yaitu kepada Nabi Muhammad saw. Dengan begitu beliau menyatakan itulah wahyu  yang firman Allah swt di sampaikan kepada Rasul-Nya. 
    Percaya kepada wahyu yang diturunkan Allah, berarti tidak hanya percaya kepada Al-Qur’an, tetapi juga percaya kepada segala wahyu yang diturunkan dalam semua semua masa, serta yang diturunkan kepada tiap-tiap umat. Menurut ajaran Al-qur’an setiap umat itu di manapun ia berada dimuka bumi ini, kepada uamt itu diturunkan wahyu. Karena itu orang Islam harus percaya kepada kitab Taurat, Injil dan lain-lain wahyu yang diturunkan Allah SWT dalam surah Al-Faathir ayat 24 yang menerangkan:

Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran[1255] sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.

Yang dimaksud dengan kebenaran di sini ialah agama tauhid dan hukum-hukumnya.
    Dengan demikian wahyu adalah pengetahuan dan hidayah yang dapat dengan secara samar/ rahasia dan cepat oleh seseorang yaitu para Nabi dan Rasul didalam dirinya disertai keyakinan bahwa hal tersebut dari sisi Allah baik dengan prantara atau tanpa perantara atau tanpa perantara.
    Sedangkan hakikat wahyu itu tidaklah ada kemungkinan kita mengetahuinya atau memperoleh rahasianya. Sebab wahyu itu sesuatu keadaan yang tidak dapat diketahui hakekatnya oleh manusia kecuali oleh Nabi yang mendapat Wahyu dari Allah.  Dan dapat dipahami dari ayat-ayat Al-qur’an adalah bahwa ayat-ayat itu memandang Al-qur’an sebagai kitab samawi yang diberikan kepada Nabi Muhammad saw melalui Wahyu.
Nabi Muhammad saw. Dalam hal ini menerima wahyu mengalami bermacam-macam cara dan keadaan, diantaranya:
1.Malaikat memasukan wahyu itu kedalam hatinya. Dalam hal itu Nabi saw, tidak ada melihat sesuatu  apa pun, hanya saja beliau merasa itu sudah berada didalam qalbunya. Mengenai hal ini Nabi mengatakan: “Ruhul qudus mewahyukan kedalam kalbuku”, sebagai mana yang terdapat pada surah Asy Syuuraa ayat 51.
dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan Dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir[1347] atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana
2. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi berupa seorang laki-laki yang mengucapkan kata-kata kepadanya sehingga beliau mengetahui dan hafal benar akan kata-kata itu. Kadang datang kepada Rasulullah menyerupai sahabat yang ganteng namanya : Dihyah al-Kalaby dan para sahabat yang hadir melihatnya dan mendengarkan perhatiannya akan tetapi para sahabat tidak mengetahuinya kalu yang datang adalah malaikat Jibril kecuali dari Rasulullah.
3. Jibril datang kepadanya dalam bentuk manusia kemudian menyampaikan wahyu kepadanya, sebagaimana dijelasakan di dalam hadits shahih :”Dan kadang-kadang malaikat Jibril menjelma sebagai seorang lelaki yang datang kepadaku kemudian ia menyampaikannya kepadaku lalu aku pun memahami dengan baik apa yang diucapkannya.” Cara ini paling mudah; bagi Rasulullah saw dalam menerima wahyu dari Allah .
4. Malaikat datang kepadanya di dalam tidur (mimpi) kemudia ia (Malaikat Jibril). Menyampaikan ayat-ayat yang diturunkan kepadanya terhadah Nabi.
5. Malaikat Ibril menampakkan dirinya kepada Rasulullah saw. dalam bentuk aslinya hal ini hanya terjadi dua kali disebabkan karena kekuatan Rasulullah sebagai manusia tidak sanggup untuk selalu melihat malaikat Jibril dalam bentuk aslinya dan ini merupakan suatu hikmah dari Allah kepada Rasulullah saw.
Dalam QS. Al-Najm : 13-14, Allah swt, berfirman :
وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى   عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى
Terjemahnya :
Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,  (yaitu) di Sidratil Muntaha.
Diriwayatkan dari at-Tirmidzi dari Aisyah bahwasanya dia berkata : rasulullah tidak melihat malaikat Jibril dalam bentuk aslinya kecuali dua kali : sewaktu di sidratul muntaha dan di jiyad (suatu tempat di kota Makkah) baginya (Jibril) 600 sayap yang menutupi ufuk. .

Setelah membahas tentang Al-Quran : Wahyu dan kalam Allah, kami dapat mengemukakan kesimpulan sebagai berikut :
 Al-Quran kalamullah yang dibaca berulang-ulang oleh manusia. Wahyu adalah pemberitahuan oleh Allah swt, kepada hambanya tentang segala sesuatu yang diinginkan dari berbagai macam bentuk hidayah dan ilmu dengan cara rahasia tersembunyi yang bukan kebiasaan manusia.
 Cara al-Quran diwahyukan:
(a) menampakkan dirinya malaikat jibril
 (b) berupa bentuk seorang laki-laki
 (c) mengucapkan kata-kata sehingga beliau mengetahui dan hafal benar kata-kata tersebut,
(d) menyerupai sahabat yang ganteng bernama Dihyah al-Kalaby.
(e) kadang-kadang tidak seorangpun yang melihatnya termasuk Rasulullah saw. akan tetapi Nabi saw. mendengarkannya.

Penulis: AhmadThaylah/ M.Rizqoni

1 komentar:

Ah Masa said...

Wahyu Quran turun di tempatnya yang BENAR-BENAR ABSURD, JOROK DAN TIDAK MASUK AKAL :

WAHYU AWLOH TURUN KETIKA MUHAMAD BERADA DIDALAM PAKAIAN AISYAH:

.....maka beliau shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepadanya: "Jangan kamu sakiti aku dalam masalah 'Aisyah, KARENA TIDAK SATU WAHYU PUN YANG TURUN KEPADAKU SAAT AKU BERADA DALAM PAKAIAN SEORANG ISTERI KECUALI 'AISYAH".
(Bukhari No. 2393)

Saya sering ter-senyum-senyum bahkan sampai tertawa terpingkal-pingkal ketika membaca ayat Quran dan Hadist, sungguh, itu bukan penghinaan lho...

Coba anda dengan hati yang tulus dan jujur membaca, Hadist Sahih Bukhari diatas, apa yang ada dibenak anda ketika membacanya???

Wahyu SUCI Quran turun dibalik PAKAIAN AISYAH???

Kan dibalik selimut Aisyah yang ada adalah "Hajar Aswadnya" si Aisyah !!!

Ha.ha.ha...

BAHKAN WAHYU AWLOH TURUN PADA WAKTU MUHAMMAD SEDANG AZL (MENGELUARKAN MANI DILUAR VAGINA):

..... Ia mendengar Jabir radliallahu 'anhu berkata; Kami melakukan 'Azl, sedangkan Al Qur`an juga turun. Dan dari Amru dari Atha` dari Jabir ia berkata; KAMI MELAKUKAN 'AZL DI MASA NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WASALLAM DAN AL QUR`AN JUGA TURUN."
(Bukhari No. 4808)

Koq bisa bisanya wahyu qoran turun pada saat sembur semburan air mani???

Wahyu apaan tuch???

Pantas saja dari era Mamad SAW, KH zainuddin MZ, Rhoma Irama, aceng fikri ampe eyang Subur..... Mereka semua adalah orang orang yg tidak pernah lepas dari urusan VAGINA.

Ha.ha.ha...