Santa Mars

Laki-laki, 18 tahun

Malang, Indonesia

Banggalah pada dirimu sendiri, Meski ada yang tak Menyukai. Kadang mereka membenci karena Mereka tak mampu menjadi seperti dirimu.
::
Start
Windows 8 SM Versi 3
Shutdown

Navbar3

Search This Blog

Wednesday, 5 June 2013

Berbakti kpd Orang Tua

Firman Allah:"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".(Qs.Al Israa'[17]:23-24)
Dalam ayat ini dibahas enam belas masalah:
Pertama: قَضَى "memerintahkan". maksudnya, memerintahkan, mengharuskan dan mewajibkan.[1]
Kemudian para ulama ahli kalam dan lain-lainnya berkata: "Kata-kata qadha secara bahasa digunakan untuk arti perintah, sebagaimana firman Allah SWT, وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ 'Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia.'Artinya adalah perintah."
Kedua: Allah berfirman, وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانا "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaknya kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya".
Allah juga berfirman, أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Artinya: "Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (Qs. Lukmaan [31]:14)
Ketiga: Termasuk berbakti kepada orang tua adalah ihsan (berlaku baik).
Keempat: Durhaka kepada kedua orang tua adalah menentang maksud keduanya bersifat mubah. Dan selama yang diperintahkan itu merupakan hal-hal yang mubah (boleh) dan termasuk yang mandub (dianjurkan).
Sebagian ulama berpandangan bahwa perintah kedua orang tua untuk hal-hal yang mubah terhadap anaknya hukumnya menjadi mandub(sunnah). Sedangkan perintah keduanya untuk hal-hal yang mandub maka menjadi bertambah kuat ke-mandub-annya itu.
Kelima: At-Tirmidzi meriawayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata, " Aku memiliki seorang istri yang aku cintai. Sedangkan ayahku membencinya sehingga memerintahkanku agar aku menceraikannya namun aku menolaknya. Hal itu aku adukan kepada Nabi SAW, beliau pun bersabda, "Wahai Abdullah bin Umar, ceraikan Istrimu." 1162 Hadits hasan shahih.
Keenam: Diriwayatkan dari Malik bahwa seorang pria berkata kepadanya, "Sungguh, ayahku berada di negara Sudan. Dia mengirim surat kepadaku agar aku datang kepadanya. Sedangkan ibuku melarang untuk itu. "Maka ia berkata, "Ta'ati ayahmu dan jangan tidak ta'at kepada ibumu".
Ungkapan Malik ini menunjukkan bahwa bakti kepada keduanya harus sama menurutnya.
Ketujuh: Bakti kepada kedua orang tua tidak khusus ketika kedua orang tua itu muslim. Bahkan sekalipun keduanya kafir, berbakti dan berbuat baik kepada keduanya tetap wajib.
Kedelapan: Di antara berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua adalah jika ditentukan untuk berangkat berjihad maka hendaknya berjihad dengan izin keduanya. Dalam Ash-Shahih ada riwayat dari  Abdullah bin Amru, ia berkata, "Ada seorang pria datang kepada Nabi SAW meminta izin untuk berzihad. Maka beliau bertanya, "Apakah kedua orang tuamu masih hidup?. "Ia menjawab, "Ya". Beliau bersabda, "Berjihadlah dengan berbakti pada keduanya."[2]
Sedangkan lafazh Muslim di selain Ash-Shahih: Ia berkata, "Ya, aku meninggalkan keduanya dalam keadaan menangis". Beliau bersabda, "Kembalilah dan buat keduanya tertawa sebagaimana engkau telah membuat keduanya menangis."[3]
Kesembilan: Para ulama berbeda pendapat berkenaan dengan kedua orang tua yang musyrik, apakah anaknya harus keluar dengan izinnya, jika jihad salah satu fardhu kifayah. Ats-Tsauri mengatakan,"Tidak boleh berperang melainkan dengan izin keduanya".
Asy-Syafi'i berkata, "Boleh baginya berperang dengan tanpa izin keduanya."
Kesepuluh: Di antara faktor yang menyempurnakan bakti kepada kedua orang tua adalah menyambung silaturrahim dengan para sahabat atau temannya.
Kesebelas: Firman Allah SWT:
“Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu.” Di khususkan ketika lanjut usia karena ini adalah masa di mana keduanya sangat membutuhkan baktinya karena perubahan kondisi pada keduanya yang melemah faktor usia yang tua.
Keduabelas: Firman Allah SWT:  
“Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’.” Maksudnya, jangan katakan kepada keduanya ucapan-ucapan yang di dalamnya sekecil apapun sesuatu yang menyedihkan.
Mujahid berkata, “Artinya: Jika anda mendapatkan kedua orang tua dalam kondisi lanjut usia lalu ia buang air besar dan air kecil sebagaimana yang keduanya lihat pada diri anda ketika anda masih kecil, maka janganlan anda jijik kepada keduanya lalu anda ucapkan ah.”[4] Sedangkan maksud ayat ini lebih luas dari makna in.
Uff dan tuff adalah kotoran kuku,[5]
Abu Bakar berkata, “Artinya: merasa jijik ketika mencium baunya.”[6] Sebagian mereka mengatakan, “Makna Uff adalah penghinaan dan sikap mengecilkan.
Al Qurtubi berkata, “Asalnya adalah tiupan Anda akan sesuatu yang jatuh pada Anda berupa debu dan lain sebagainya.
Sedangkan Abu Amru bin Al Ala’ berkata, “Uf adalah kotorang di sela-sela kuku sedangkan tuff adalah potongannya.”
Az-Zujjaj berkata, “Arti uff adalah busuk.”
Al Ashma’i berkata, “Uff adalah tahi telinga, sedangkan tuff adalah kotoran kuku. Akhirnya menyebar penggunaannya sehingga disebutkan untuk segala sesuatu menyakitkan.”[7]
Ketigabelas: Firman Allah SWT:Dan janganlah kamu membentak mereka.” An-Nahru: Membentak dan berbicara kasar kepadanya.
“Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”Maksudnya, yang lembut dan indah. Seperti: Wahai bapakku dan hai ibuku, dengan tidak menyebut nama atau julukannya. Demikian dikatakan oleh Atha’.
Keempatbelas: Firman Allah SWT:“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan.” Ini adalah bahasa kiasan.[8]
Kelimabelas:di dalam ungkapan ................adalah untuk menjelaskan jenis.[9] Maksudnya, sungguh rendah diri adalah bagian dari rahmat yang kokoh bersemayam di dalam jiwa. Dan juga bisa menunjukkan tujuan akhir.[10]

Dengan demikian kedua orang tua memiliki hak untuk diutamakan. Rasulullah SAW bersabda,
“Seorang anak tidak akan bisa membalaskan kebaikan orang tua kecuali jika mendapatkan orang tuanya menjadi budak lalu ia membelinya dan memerdekakannya.”[11]
Keenambelas: Firman Allah SWT:Sebagaimana mereka telah mendidikku.” Pendidikan secara khusus disebutkan agar para hamba ingat bahwa kasih-sayang kedua orang tua dan kelelahan keduanya adalah dalam mendidik.
Dari beberapa penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa, besarnya peran kedua orang tua terhadap kita, mulai dari mengandung, mendidik sampai kita dewasa hingga sekarang. Maka utamakanlah kedua orang tua seperti layaknya mereka mengutamakan kita di waktu kecil, janganlah kita mendurhakai dan menyakiti perasaannya, walaupun hanya dengan perkataan yang di dalamnya sekecil apapun sesuatu yang menyedihkan.


[1] Lih. Jami’ Al Bayan (15/46), Tafsir Al Mawardi (2/429) dan Al Muharrar Al Wajiz (10/277).
[2] HR. Muslim pada pembahasan tentang berbuat baik, bab: Berbakti kepada Kedua Orang Tua Dan keduanya Berhak Mendapatkan itu, (4/1975) dengan lafazh yang mirip.
[3] HR. Muslim, bab: Berbakti kepada Kedua Orang Tua Dan Keduanya Berhak Mendapatkannya itu (4/1975) dengan lafazh yang mirip.
[4] Sebuah atsar dari Mujahid yang disebutkan oleh Ath-Thabari dalam Jami’ Al Bayan (15/47), An-Nuhas dalam Ma’ani Al Qur’an (4/140), Ibnu Athiyah dalam Al Muharrar Al Wajiz (10/279).
[5] Hadits ini memiliki pendukung dari Abu Daud pada pembahasan tentang Shalat (1/310 nomor: 1194).
[6] Lih. An-Nihayah, h. 1/55.
[7] Lih. Lisan Al ‘Arab (entri: Uff).
[8] Lih. Al Muharrar Al Wajiz, h. 10/279.
[9] Ibid, h. 10/280
[10] Ibid. Juga bisa untuk menunjukkan awal tujuan yang jelas ini benar.
[11] HR. Muslim, bab: Keutamaan membesarkan Orang Tua (2/1148). Juga diriwayatkan Abu Daud dan Ibnu Majah pada pembahasan tentang etika. Juga oleh At-Tirmidzi dalam berbuat baik dan Ahmad dalam Al Musnad (2/230).

0 komentar: