Santa Mars

Laki-laki, 18 tahun

Malang, Indonesia

Banggalah pada dirimu sendiri, Meski ada yang tak Menyukai. Kadang mereka membenci karena Mereka tak mampu menjadi seperti dirimu.
::
Start
Windows 8 SM Versi 3
Shutdown

Navbar3

Search This Blog

Wednesday, 5 June 2013

Al-Qur'an & Para Ahlul Kitab

Istilah ahlul kitab berasal dari dua kata bahasa arab yaitu ahl dan kitab. Ahl/ahlu berarti pemilik sedangkan kitab berarti kitab/buku suci. Jadi, ahlul kitab berarti, “Pemilik Kitab”, yakni para umat rasul yang diberi kitab suci ( wahyu Allah ), seperti pada kaum Yahudi dan Nasrani. Mereka diberi kitab Taurat dan Injil.[1] Selain itu, ahlul kitab juga berarti orang-orang yang diberikan kepadanya kitab-kitab, sebelum datangnya Nabi Muhammad saw.[2]
Bagi umat muslim, maka ahlul kitab itu ada yang dianggap beriman dan ada pula yang dianggap kafir apabila :
1. Mereka mengakui kebenaran Alquran sebagai kitab suci penyempurna dan pelengkap dari kitab suci mereka tersebut sekaligus juga mereka mengakui bahwa Nabi Muhammad saw adalah Rasul Allah swt. Maka mereka ini dianggap sebagai ahlul kitab yang beriman.
2.  Mereka tidak mengakui kebenaran Alquran serta mengganti dan mengubah isi dari kitab suci yang telah diturunkan kepada mereka tersebut dan mengingkari kerasulan Nabi Muhammad saw. Maka mereka ini dianggap sebagai ahlul kitab yang kafir.[3]
Sedangkan kitab itu sendiri berarti wahyu Allah swt yang diturunkan kepada para rasul, kemudian diteruskan kepada umat manusia sebagai pedoman dan petunjuk hidup bagi mereka.
Adapun kitab-kitab yang Allah swt turunkan itu ada 4 macam yaitu :
Kitab ini diturunkan oleh Allah swt kepada Nabi Musa as untuk kaumnya umat Yahudi, dimana kitab ini berisi tentang hukum-hukum Allah swt yang jumlahnya ada sepuluh macam. Yang sepuluh macam hukum ini diterima oleh Nabi Musa di puncak gunung Tursina. Seluruhnya sesuai dengan keterangan yang terdapat dalam kitab suci Alquran, kecuali satu di antaranya  yaitu memuliakan hari sabtu. Sepuluh macam hukum itu adalah sebagai berikut :
1. Mengakui keesaan Allah swt.
2. Larangan menyembah berhala.
3. Jangan menyebut nama Allah swt dengan sia-sia.
4. Supaya mensucikan hari sabtu.
5. Menghormati ayah dan ibu.
6. Larangan membunuh sesama manusia.
7. Jangan berzina.
8. Larangan mencuri.
9. Tidak boleh jadi saksi palsu.
10. Tidak boleh mengambil istri orang.
Adapun dalil yang menunjukkan bahwa Kitab Taurat ini diturunkan kepada Nabi Musa as adalah:
44.  Sesungguhnya kami Telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.(Q.S. Al-Maidah: 44)

Kitab ini diturunkan oleh Allah swt kepada Nabi Daud as untuk kaum Yahudi juga. Adapun isinya tidak memuat syari’at atau hukum-hukum agama, melainkan berupa nasehat dan peringatan-peringatan saja. Hal ini karena Nabi Daud as pada waktu itu hanya diperintahkan untuk mengikuti syari’atnya Nabi Musa as saja.[4]
Adapun dalil yang menunjukkan bahwa Kitab Zabur ini diturunkan kepada Nabi Daud as adalah:
55.  Dan Tuhan-mu lebih mengetahui siapa yang (ada) di langit dan di bumi. dan Sesungguhnya Telah kami lebihkan sebagian nabi-nabi itu atas sebagian (yang lain), dan kami berikan Zabur kepada Daud.(Q.S. Al-Isra: 55)
Kitab ini diturunkan oleh Allah swt kepada Nabi Isa as untuk kaumnya umat Nasrani, dimana kitab ini memuat keterangan-keterangan yang benar dan nyata berupa perintah-perintah Allah swt supaya manusia mengesakan-Nya dan juga menjelaskan bahwa di akhir zaman nanti akan ada datang rasul terakhir, yakni Nabi Muhammad saw.[5]
Adapun dalil yang menunjukkan bahwa Kitab Injil ini diturunkan kepada Nabi Isa as adalah:
46.  Dan kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. dan kami Telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.(Q.S. Al-Maidah: 46)
Kitab ini diturunkan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad saw untuk seluruh umat manusia. Pada garis besarnya Alquran itu berisi :
1. Tauhid, yakni mengesakan Allah swt.
2. Ibadah yang disyariatkan oleh Allah swt.
3. Muamalah, baik hubungan dengan Allah maupun hubungan dengan sesama manusia.
4. Berbagai petunjuk, menuju jalan hidup yang benar di dunia dan di akhirat.
5. Pembeda antara yang haq dengan yang batil dan antara yang halal dengan yang haram.
6. Keterangan-keterangan tentang alam ghaib.
7. Keterangan- keterangan ilmiah tentang kejadian manusia dan penciptaan alam semesta.
8. Mengandung kisah umat terdahulu sebagai suri tauladan.
Adapun dalil yang menunjukkan bahwa Kitab Alquran ini diturunkan kepada Nabi Muhammad saw adalah: 48.  Dan kami Telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang Telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang Telah kamu perselisihkan itu,(Q.S. Al-Maidah: 48) 
a. Umat Nasrani menganggap bahwa Tuhan itu ada tiga
Di antara penyimpangan dan penyelewengan yang dilakukan oleh umat Nasrani adalah mereka menganggap bahwa Tuhan itu ada tiga, sebagaimana firman Allah swt:
171........Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: "(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari Ucapan itu). (itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. cukuplah Allah menjadi Pemelihara.(Q.S. An-Nisa : 171)
รถDalam ayat di atas dijelaskan bahwa umat Nasrani menganggap bahwa Tuhan itu ada tiga yang terdiri dari Tuhan anak, Tuhan ibu dan Tuhan bapak, adapun Tuhan anak itu adalah Nabi Isa as dan Tuhan ibu itu adalah Siti Maryam sedangkan Tuhan bapak itu adalah Allah swt. Yang mana anggapan itu adalah benar-benar kejahilan dan kesesatan yang nyata dan jauh dari kebenaran. Padahal Allah swt itu adalah Tuhan Yang Maha Esa dan Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan,[6] sebagaimana firman-Nya di dalam Alquran
1.  Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
3.  Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan ( Q.S.Al-Ikhlas :1dan 3)
b. Mereka menganggap bahwa Allah swt punya anak
Selain mereka menganggap bahwa Tuhan itu ada tiga, mereka juga menganggap bahwa Tuhan itu punya anak, seperti dijelaskan dalam ayat di bawah ini :
30.  Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al masih itu putera Allah". Demikianlah itu Ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?           (Q.S. At-Taubah : 30 )
Dari ayat di atas dijelaskan bahwa umat Yahudi mengatakan bahwa Uzair[7] itu adalah anak Tuhan, peristiwa ini bermula ketika di antara mereka tidak ada satu orang pun yang hafal terhadap semua isi kitab Taurat, sejak kematian Khianashar. Seratus tahun kemudian, datanglah Uzair kepada mereka lalu membacakan isi kitab Taurat dengan hafal.[8] Melihat peristiwa langka ini umat Yahudi terkejut dan heran sekali, akhirnya dia diberi kedudukan sebagai seorang ulama dan agamawan Yahudi dan dihormati oleh setiap orang bahkan ada yang sampai menganggap bahwa dia adalah anak Tuhan.[9] Sedangkan umat Nasrani mengatakan bahwa Nabi Isa as adalah anak Tuhan karena beliau lahir tanpa ayah, mereka menganggap bahwa tidak mungkin Siti Maryam itu mau melahirkan tanpa ada suami yang menggaulinya, jadi mereka menganggap bahwa Tuhanlah yang menjadi suami dari Siti Maryam itu dan menjadi bapak dari Nabi Isa as tersebut. Padahal kejadian itu atas kehendak Allah swt, walaupun seorang perempuan itu tidak mempunyai  seorang suami kalau Allah menghendaki agar perempuan itu melahirkan pasti akan terjadi karena itu mudah bagi Allah swt untuk menunjukkan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada umat manusia.[10]
c. Mereka mengaku sebagai anak Tuhan dan kekasih-Nya
Selain mereka menganggap bahwa Tuhan itu ada tiga dan punya anak mereka juga ada yang sampai mengaku sebagai anak Tuhan dan kekasih-Nya, sebagaimana firman Allah swt dalam surah Al-Maidah ayat 18 dan pengakuan mereka tersebut langsung dibantah oleh Allah swt dalam ayat itu pula, yang ayat tersebut adalah :
18.  Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami Ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya". Katakanlah: "Maka Mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?" (kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya dan mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. dan kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).(Q.S.Al-Maidah :18)
Dari ayat di atas dijelaskan bahwa umat Yahudi dan Nasrani mengaku bahwa mereka adalah anak-anak Tuhan dan kekasih-Nya, selain dari mereka itu bukanlah kekasih-kekasih-Nya, padahal mereka itu sama saja manusia biasa yang termasuk di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Jika dia berdosa maka dia akan disiksa dan jika dia berbuat baik maka dia akan diberi pahala dan apabila dia juga bertaubat maka akan diampuni oleh Allah swt, yang mana mereka itu tidak memiliki keistimewaan dan kelebihan apapun, jadi itu berarti sama saja dengan manusia pada umumnya.[11]
d. Mereka merupakan golongan yang menyembunyikan kebenaran
Selain mereka melakukan perbuatan-perbuatan tersebut di atas, mereka juga merupakan golongan yang menyembunyikan dan merahasiakan akan kebenaran, seperti yang dijelaskan oleh Allah swt dalam surah Al-Baqarah ayat 146, yang ayat tersebut adalah :
146.  Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang Telah kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. dan Sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka Mengetahui.(Q.S. Al-Baqarah : 146)
Dari ayat di atas dijelaskan bahwa umat Yahudi dan Nasrani itu telah membaca dan mengetahui tentang akan datangnya rasul terakhir yaitu Nabi Muhammad saw [12] dan sifat-sifat [13] serta identitas beliau [14] yang terdapat di dalam kitab suci mereka tersebut, namun mereka iri dan dengki karena rasul tersebut bukan berasal dari kaumnya melainkan dari bangsa Arab sehingga mereka  mendustakan dan menyembunyikan kebenaran tersebut dengan menghapus ayat-ayat yang menerangkan tentang Nabi Muhammad saw dengan mengganti ayat-ayat yang lain. Seandainya Nabi Muhammad saw tersebut berasal dari kaumnya sendiri mungkin mereka tidak melakukan perbuatan itu. Namun, karena kedengkian yang telah menyelimuti mereka sehingga mereka pun tetap melakukan perbuatan tersebut.
Berdasarkan uraian di atas dapat kita pahami bahwa para ahlul kitab itu merupakan umatnya dari kaum Nabi Musa as, Nabi Daud as serta Nabi Isa as, dimana mereka tersebut diperintahkan agar mengikuti dan menaati segala hukum dan aturan sebagaimana  yang tercantum di dalam kitab Zabur, Injil dan Taurat. Namun, setelah para rasul tersebut wafat, mereka banyak yang mengubah, menghapus dan mengganti isi dari kitab-kitab suci tersebut menurut kehendak dan hawa nafsu mereka. Seperti mereka menganggap bahwa Tuhan itu ada tiga, punya anak dan bahkan ada yang sampai menganggap dirinya sendiri sebagai anak Tuhan dan kekasih-Nya. Padahal itu sama sekali tidak  ada di dalam kitab suci mereka tersebut. Namun, karena mereka sudah terlanjur sesat, maka mereka pun tetap melakukan perbuatan-perbuatan tersebut.


[1]  http://imtaq.com/definisi-ahlul-kitab-dalam-islam/ (didownload 10 April, 2011).
[2]  http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080307192101AAzzC7S (didownload 10 April, 2011 ).
[3]  http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080307192101AAzzC7S (didownload 10 April, 2011 ).  
[4]  Muhammad Ahmad, Tauhid Ilmu Kalam (Bandung : CV Pustaka Setia, 1998), 133.
[5]  Ahmad, Tauhid Ilmu Kalam, 133.
[6] Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh, Tafsir Ibnu Katsir, terj. M. Abdul Ghoffar ( Bogor : Pustaka Imam Asy-Syafii, 2004 ), 466.
[7]  Dia dulunya termasuk tawanan yang dibebaskan Kursy Raja Persia dan diperbolehkan kembali ke Yarussalem pada tahun 451 M. Lihat M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Volome 5   ( Jakarta : Lentera Hati, 2002), 546.
[8]  Fuad Kauma, Tamsil Alquran ( Yogyakarta : Mitra Pustaka, 2000), 130.
[9]  M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah Volome 5 ( Jakarta : Lentera Hati, 2002), 546.
[10]  Shihab, Tafsir Al-Mishbah Volome 5, 547.
[11]  Shihab, Tafsir Al-Mishbah Volome 5, 58.
[12]  Choiruddin Hadhiri, Klasifikasi Kandungan Alquran, (Jakarta : Gema Insani Press, 1996), 196.
[13] ‘Aidh al-Qarni, Tafsir Muyassar Juz 1-8, terj. Tim Qisthi Press ( Jakarta : Qisthi Press, 2008 ), 11
[14]  Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari, Tafsir Ath-Thabari, terj. Ahsan Askan,       ( Jakarta : Pustaka Azzam, 2007 ), 646.


Penulis: Antoni/ M. Zulfahmi Husin

0 komentar: